Warna-Warni Tarawih di Indonesia, dari Diplomasi Sajadah hingga Jurus Sandal Aman
Tarawih di Indonesia tak sekadar ibadah, tapi panggung budaya. Dari “diplomasi sajadah” hingga jaburan, fenomena unik ini mencerminkan hangatnya Ramadan dan kuatnya tradisi kebersamaan.
CIAMIS – Malam-malam Ramadan di Indonesia itu punya “nyawa” yang beda banget. Di balik riuhnya suara tadarus dan aroma minyak telon di saf anak-anak, ada serangkaian fenomena unik yang cuma bisa kita temui di sini, yakni Tarawih.
Tarawih bukan sekadar rutinitas ibadah, tapi sudah menjadi panggung budaya yang merekam pola hidup masyarakat kita secara jujur.
Berikut adalah kebiasaan-kebiasaan unik saat Tarawih di Indonesia yang dihimpun TIMES Indonesia dari berbagai sumber:
1. Diplomasi Sajadah: "Booking" Tempat Sejak Sore
Pernah lihat masjid kosong tapi saf depan sudah penuh dengan sajadah yang tergelar rapi? Inilah yang disebut “Diplomasi Sajadah”. Fenomena ini biasanya memuncak di malam-malam awal atau malam ganjil di akhir Ramadan.
Di balik aksi booking tempat ini, sebenarnya ada gairah spiritual yang besar. Orang berlomba-lomba ingin berada di saf terdepan karena mengejar keutamaan pahala.
Meski terkadang terlihat lucu karena sajadahnya “shalat duluan” sebelum pemiliknya datang, ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat kita, posisi menentukan kenyamanan batin dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
2. Tarawih "The Flash", Kecepatan yang Menjadi Tradisi
Di beberapa titik di Indonesia, seperti di Blitar atau Indramayu, ada tradisi Tarawih super cepat. Bayangkan saja, 23 rakaat bisa tuntas dalam waktu kurang dari 10 menit. Gerakannya sinkron, cepat, dan penuh energi.
Bagi mata awam, ini mungkin terlihat terburu-buru. Namun bagi pelakunya, ini adalah bentuk tradisi yang sudah turun-temurun. Ada pesan tentang ketangkasan fisik dan semangat yang membara.
Ini adalah pengingat bahwa ibadah tidak selalu harus lambat, yang penting rukunnya terpenuhi dan dilakukan dengan kegembiraan.
3. "The Great Migration", Fenomena Saf yang Maju Mundur
Hukum alam Tarawih di Indonesia itu unik. Di minggu pertama, saf meluber sampai ke belakang masjid. Di minggu kedua dan ketiga, saf pelan-pelan “maju” karena jumlah jemaah berkurang—sebagian berpindah ke pusat perbelanjaan atau sibuk di dapur.
Fenomena ini adalah cermin dari fluktuasi iman dan prioritas manusia. Ada perjuangan antara mempertahankan konsistensi ibadah dengan persiapan merayakan kemenangan (Idulfitri).
Mereka yang tetap bertahan di saf yang sama dari malam pertama hingga terakhir adalah para “pejuang napas panjang” yang memahami bahwa esensi Ramadan ada pada akhir perjalanannya, bukan cuma di pembukaannya.
4. Perang Sarung & Komedi di Saf Anak-anak
Suara sarung yang dihentakkan ke lantai atau tawa cekikikan anak-anak di saf paling belakang adalah backsound wajib Tarawih. Kadang ada sandal yang tertukar, atau sarung yang melorot saat sujud.
Masjid bagi anak-anak Indonesia adalah taman bermain spiritual pertama mereka. Meskipun kadang mengganggu kekhusyukan, keberadaan mereka yang riuh adalah tanda bahwa masjid kita punya masa depan.
Di sela-sela candaan itu, mereka sedang membangun memori bahagia tentang rumah ibadah, sebuah ikatan emosional yang akan membawa mereka kembali ke sana saat dewasa nanti.
5. Parkir Sandal "Strategis"
Kebiasaan unik lainnya adalah cara orang memarkirkan alas kaki. Ada yang menyembunyikannya di balik tiang, atau memisahkan sandal kanan dan kiri di sudut berbeda agar tidak tertukar atau “dipinjam” tanpa izin.
Ini adalah potret sisi manusiawi kita, tetap waspada meski berada di tempat suci. Di sisi lain, fenomena tertukarnya sandal saat pulang Tarawih sering kali menjadi ajang latihan ikhlas yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari.
6. Tradisi "Jaburan", Takjil yang Kembali Lagi
Di banyak desa di Jawa, ada tradisi membawa makanan dari rumah ke masjid untuk dimakan bersama setelah Tarawih atau saat tadarus, yang sering disebut jaburan.
Makanan ini bukan sekadar pengganjal perut setelah lapar seharian, tapi simbol gotong royong. Jaburan mengajarkan kerelaan berbagi. Meskipun di rumah masing-masing sudah tersedia makanan, menyantap hidangan bersama di teras masjid memiliki rasa syukur yang berbeda.
Sekat sosial runtuh, si kaya dan si miskin makan dari nampan yang sama.
7. Kostum "Hanya Ada di Ramadan"
Pernah memperhatikan bagaimana gaya berpakaian berubah drastis? Mukena warna-warni dengan bordir rumit, sarung dengan lipatan presisi, hingga tren baju koko terbaru yang mendadak seragam se-RT.
Ada antusiasme untuk memberikan penampilan terbaik di hadapan Tuhan. Meskipun substansi ibadah ada di hati, keinginan untuk tampil bersih dan rapi mencerminkan kegembiraan masyarakat Indonesia dalam menyambut tamu agung bernama Ramadan.
Keunikan-keunikan ini mungkin terlihat sepele atau lucu, namun justru itulah “bumbu” yang membuat rindu pada Ramadan selalu membuncah setiap tahun.
Fenomena ini membuktikan bahwa Islam di Indonesia tumbuh berdampingan dengan budaya, menciptakan harmoni yang hangat, inklusif, dan penuh tawa. Tarawih bukan hanya soal mengejar pahala di dalam masjid, tapi juga tentang merawat silaturahmi di halaman masjid. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




